Efektifkah Strategi Sales Funnel Dengan Landing Page dan Pop-Up?

Bayangkan strategi sales funnel seperti ini: Ketika anda mengunjungi blog, anda dihadapkan pada sebuah halaman yang memuat satu ajakan menarik “Saya Beritahu Kamu Bagaimana Saya Mendapatkan Rp 7.000.000 Tiap Bulan Hanya Melalui Blog!” Nampak seperti satu cahaya terang di hari-hari suram. Anda bergegas mengklik satu-satunya tombol di halaman itu yang bertuliskan: “Beritahu Saya Caranya.”

Demikan strategi sales funnel bekerja. Begitu anda klik, sebuah pop-up muncul berisi satu bidang formulir. Di bidang itu anda harus mengisi alamat email anda. Di bawahnya ada satu tombol dengan tulisan: “Beritahu Segera!” Dengan semangat anda isi alamat email anda, dan dengan semangat pula anda mengklik tombol di bawahnya. Lalu apa berikutnya?

Berikutnya, terserah pemilik blog. Anda tidak mengendalikan apapun atas apa yang selanjutnya akan terjadi.

Apa yang baru saja anda lakukan adalah masuk ke dalam sales funnel melalui sebuah landing page. Ini bukan tindakan yang keliru. Ini baik dan merupakan teknik marketing yang sehat adanya. Dengan penerapan yang keliru, sales funnel dapat menyisakan masalah yang serius.

Apa itu sales funnel?

Sales funnel adalah sebuah jalur penjualan yang terfokus dan terarah yang disediakan oleh pemilik produk untuk pembeli.

Dengan contoh di atas, struktur sales funnel itu kurang lebih: Menawarkan solusi pada calon konsumen → mendapatkan identitas calon konsumen → mengirimkan email berisi contoh produk → menawarkan produk berskala penuh → diakhiri dengan transaksi penjualan. Anda senang, penjual juga senang.

Strategi Sales Funnel dengan Landing Page dan Pop-up

Seperti yang sudah disebutkan di atas, aktivitas ini memiliki kelemahan baik bagi pembeli maupun penjual. Masalah yang paling utama adalah kesan gangguan yang cukup besar dan berpotensi pada tindakan penjerumusan.

Kelemahan Strategi Sales Funnel Bagi Pengunjung Blog

Menilik lagi contoh di atas, anda dijanjikan untuk mendapatkan cara mendapatkan sekian banyak uang hanya dari blog. Tentu saja anda akan menunggu munculnya cara-cara ini sejak anda mengklik tombol ‘Beritahu Segera!’. Bagaimana jika cara-cara itu tidak pernah muncul? Alih-alih anda diberikan cara-cara yang baik, anda justru diberikan tawaran-tawaran lain yang lebih menggiurkan.

Demikian seterusnya hingga anda berhenti pada sebuah kenyataan: beli atau tidak mendapatkan cara-cara itu. Kalaupun anda memutuskan untuk membeli, tetap tidak ada jaminan bahwa cara-cara yang diberikan sesuai dengan konsep berpikir anda. Anda tidak mengetahui dengan pasti kualitas pemilik blog. Anda hanya tertarik dengan tawarannya yang menggiurkan dan anda masuk ke dalam sales funnel nya begitu saja.

Strategi Sales Funnel Jangan Mengeksploitasi Landing Page dan Pop-up

Kadar gangguan yang cukup tinggi juga akan dirasakan oleh pengunjung blog yang menerapkan strategi sales funnel seperti ini. Seberapa sering anda mengunjungi sebuah blog hanya untuk dihadapkan oleh tawaran bertubi-tubi dari pemilik blog? Baik melalui landing page nya maupun melalui pop-up yang bertebaran.

Masih ingat betapa mengganggunya pop-up di akhir tahun 90 an dan 2000 an awal? Hingga muncul piranti pop-up blocker? Strategi yang sama masih dilakukan oleh penjual sekarang ini. Hanya saja bentuk dan muatannya yang terkesan lebih elegan. Cukup elegan hingga anda mungkin tidak memerlukan pop-up blocker untuk mencegah kemunculannya.

Namun bagaimanapun bentuknya, ketika anda merasa terhalang untuk mendapatkan informasi yang ingin anda cari dari sebuah blog, bisa dikatakan itu adalah sesuatu yang mengganggu.

Contoh eksploitasi landing page dan pop-up:

  1. Pada gambar 1 pop-up sebagai sarana sales funnel muncul beberapa detik setelah pengunjung membuka blog yang bersangkutan.
  2. Pada gambar 2 masih di blog yang sama, pop-up lanjutan muncul dan menetap di sisi kanan bawah kecuali anda mengklik tanda silang.
  3. Pada gambar 3 landing page langsung menyambut anda begitu anda mengunjungi blog yang bersangkutan. Dengan penawaran yang kuat, anda akan cenderung lupa motivasi awal anda mengunjungi blog tersebut dan menuruti tawaran yang diberikan.
Strategi Sales Funnel dengan Landing Page dan Pop-up
Gambar 1

 

Strategi Sales Funnel dengan Landing Page dan Pop-up
Gambar 2

 

Strategi Sales Funnel dengan Landing Page dan Pop-up
Gambar 3

 

Kesalahan Pemilik Blog Dalam Menerapkan Sales Funnel

Mengapa strategi sales funnel melalui landing page dan pop-up ini sangat mengganggu? Karena hampir semua blog menerapkannya. Banyak blog mengeksploitasi landing page dan pop-up seolah itu cara yang memudahkan mereka untuk mendapatkan pembeli.

Ditambah lagi penggunaan landing page dan pop-up sudah terlampau banyak. Hal ini bisa membawa dampak buruk bagi sebuah blog. Apabila seseorang mendapatkan pengalaman kurang baik ketika menindaklanjuti landing page atau pop-up, maka ia akan menerapkan rasa tidak percaya yang sama ketika anda menggunakan landing page dan pop-up pada blog anda.

Mengapa pengelola blog menggunakan strategi sales funnel terlebih yang menggunakan media landing page dan pop-up? Karena hampir semua tutorial mengenai penerapan sales funnel sangat menarik dan tampak mudah. Bisa dikatakan penerapan sales funnel ini memang mudah. Secara spesifik, sebuah blog selalu menggunakan media perantara yang menjaring calon konsumen untuk masuk ke dalam sales funnel.

Media perantara ini antara lain landing page dan pop-up. Eksploitasi kedua media perantara ini sering dilakukan pemilik blog. Tindakan ini bisa saja merusak kredibilitas blog yang bersangkutan karena terkesan hanya fokus pada pendapatan, bukan pada layanan yang diberikan. Fokus pada penghasilan adalah satu hal penting. Namun fokus pada pemberian konten berkualitas tidak bisa ditinggalkan.

Bagaimana Memanfaatkan Sales Funnel Secara Efektif

Anda mungkin saja dapat menggunakan landing page dan pop-up untuk media sales funnel anda. Tapi menggunakan kedua media itu dengan efektif adalah tantangan yang nyata. Kata kunci yang harus anda pegang adalah: Kecuali blog anda adalah e-commerce, jadikan penjualan sebagai efek samping dari kegiatan blogging anda. Ini adalah kondisi ideal dan alami untuk menjamin keberlangsungan bisnis anda melalui blog.

Sebuah efek samping adalah sesuatu yang tidak anda tuju namun terjadi. Ketika anda menciptakan kondisi sehingga penghasilan hanya sebagai efek samping blog anda, maka anda tidak akan mengeksploitasi penggunaan landing page dan pop-up untuk mendukung sales funnel anda. Dengan demikian anda sudah membuat sales funnel anda menjadi lebih efektif. Penerapan sales funnel secara efektif hanya dapat terlaksana dengan satu syarat:

Membuat blog dengan topik yang tepat. Percayalah ini lebih sulit ketimbang proses menjual apapun. Untuk mendapatkan cara pasti dalam menentukan topik blog, anda bisa baca di sini.

Blog memang sebaiknya berawal dari sebuah passion. Tidak menjadi masalah apabila passion anda adalah mencari uang dan anda menggunakan blog sebagai media. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah pengunjung situs anda memiliki motivasi untuk mencari informasi di blog anda. Jika informasi yang anda berikan bermanfaat dan sangat membantu, maka akan lebih mudah bagi anda untuk menarik mereka masuk ke dalam sales funnel tanpa perlu mengeksploitasi landing page dan pop-up, yang pada akhirnya anda justru mengeksploitasi blog kesayangan anda sendiri. Nikmati aktifitas blogging anda dan siapa tahu blog anda menjadi Huffington Post berikutnya!

Peminat dan penikmat WordPress, blogging, desain, dan marketing.

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *