SEO Punah Suatu Hari. Mungkin Saja.

Manusia membangun sebuah website untuk manusia lain. Agar website ini dapat disajikan, manusia membutuhkan sebuah mesin. Mesin pencari. Manusia mencoba mengatakan pada mesin pencari itu: “Bawalah website yang saya buat ini ke manusia lain di ujung sana”. Jelas masalahnya adalah mesin pencari tidak paham bahasa manusia.

SEO punah suatu saat hanya jika mesin pencari telah ‘sempurna’ untuk memahami bahasa manusia. Kembali ke  kasus di atas, maka muncul yang namanya SEO. Search Engine Optimization. Sebuah usaha manusia untuk berkomunikasi dengan mesin pencari agar website yang dibangunnya dapat disajikan untuk manusia lain yang membutuhkannya. Usaha ini dimulai sekira tahun 1990. Sekarang tahun 2018. Dua puluh delapan tahun sudah manusia harus memenuhi persyaratan yang diminta mesin pencari. Semua demi usahanya menyajikan website yang tepat kepada manusia lain yang membutuhkan.

Google sebagai mesin pencari paling populer sejauh ini, meminta beberapa syarat bagi sebuah website untuk berkesempatan tampil di SERP (Search Engine Results Page).  Perhatikan bahwa kata kuncinya adalah berkesempatan. Artinya meskipun memenuhi syarat, website anda belum tentu tampil di SERP. Termasuk ketika orang mengetik frasa yang persis dengan kata kunci website anda di Google. Mengapa? Karena internet bukan hanya milik anda. Bukan hanya anda yang memiliki website. Muncul kompetisi.

Lalu SEO berkembang menjadi bisnis. Bisnis ini memberi janji website anda memiliki kesempatan yang jauh lebih besar lagi untuk tampil di SERP. Bisnis ini memahami betul bahasa mesin pencari. Anda merasa sangat membutuhkan bantuan mereka. Anda bersedia membayar mereka. Tidak ada yang keliru. Kenyataannya seperti itu. Kompetisi memang membutuhkan sumber daya dan dana.

Jumlah website di dunia - SEO Punah
Jumlah website di dunia terus tumbuh.

Di internet berjejal website yang jumlahnya tidak sedikit. Satu milyar dan terus bertambah tiap detik. Misalnya ketika anda mencari dengan frasa: desain rumah minimalis, muncul banyak sekali halaman di SERP. Anda memutuskan mengunjungi tautan website yang berada di posisi teratas di halaman pertama. Anda bahkan tidak bertanya mengapa website itu yang ada di posisi teratas? Mengapa bukan website yang ke dua yang ada di posisi teratas? Atau yang ke tiga? Atau bahkan yang ada di halaman 2? Jika anda sungguh pernah bertanya, bagus. Jawabannya: Karena website di posisi teratas itulah yang memahami dan memenuhi kebutuhan mesin pencari. Setidaknya itulah yang terjadi sejauh ini.

Masalah relevan atau tidak, siapa yang tahu? Dalam hal ini mesin pencari harus memberikan hasil di SERP. Hasil paling cepat yang bisa dia sajikan adalah menyajikan daftar website yang sudah dia kenal. Berkat praktik SEO itu tadi. Jika tidak relevan, mudah. Manusia tinggal mengulang pencarian dengan frasa lain yang lebih relevan. Demikian seterusnya hingga manusia puas dengan hasilnya. Tidak ada masalah bukan? Ada. Inilah mengapa SEO punah mungkin saja terjadi di masa depan.

SEO Punah

Bagaimana nasib website yang tidak menerapkan SEO? Apakah website itu akan tenggelam di posisi yang jauh dari halaman pertama SERP karena tidak menerapkan SEO? Mengerikan jika anda seorang blogger dengan tulisan berkualitas tapi tenggelam di halaman 10 SERP hanya karena anda tidak ahli dalam SEO. Kecuali orang suka sekali menggunakan Google.com dan menikmati browsing SERP hingga puluhan halaman, website anda tidak akan ditemukan. Tapi seberapa banyak orang suka browsing hingga puluhan halaman SERP? Inilah yang sedang digali terus menerus oleh Google sebagai mesin pencari paling kredibel. Mereka senantiasa memperbarui dan menciptakan algoritma baru. Tujuannya tentu saja supaya tidak ada lagi website berkualitas yang tidak tersaji di halaman depan SERP.

Data click-through rates di SERP.
Data seberapa banyak orang browsing di SERP. Sumber: https://www.advancedwebranking.com/ctrstudy/

Google melakukan update algoritmanya rata-rata 500-600 kali dalam satu tahun. Usaha Google untuk menyempurnakan hasil pencarian tidak bisa dibilang main-main. Intinya Google harus tahu pasti apa yang sebenarnya dicari orang ketika orang mengetik frasa misalnya: desain rumah minimalis. Apakah orang ingin mengetahui desainnya? Harganya? Atau jasa penyedia pembangunan rumah minimalis? Google dituntut untuk memahami bahasa manusia. Sementara SEO adalah kebalikannya, manusia dituntut memahami bahasa mesin.

Harapannya suatu saat nanti pembuat website dan orang yang membutuhkannya dapat dipertemukan tanpa banyak praktik njelimet khas SEO. Webmaster atau penyedia konten mungkin tidak lagi memaksakan tulisannya untuk harus memiliki keyword di paragraf pertama, misalnya. Semua praktik-praktik penjungkirbalikan konten mungkin tidak perlu lagi dilakukan. Sehingga konten khas tiap website dapat dirasakan pengunjung. Konten tidak lagi seragam secara struktur dan gaya penulisan hanya karena mesin pencari menuntut demikian. Demikianlah pada saat itu SEO punah.

Tapi proses ini bagaimanapun lamban. Mesin ini tidak kunjung mendekati sempurna. Website belum bisa lepas dari SEO. SEO masih tetap harus dilakukan. Konten-konten berkualitas yang seharusnya dikonsumsi manusia harus dijungkirbalikkan menjadi konten untuk konsumsi mesin pencari. Konten-konten ini semakin serupa satu dengan yang lain. Senada mengikuti arah algoritma mesin pencari. Seringkali anda mendapati konten dengan pola: 7 Cara Untuk…. atau Inilah Mengapa di Tahun 2018 Anda Tidak Perlu…. Karena konten dengan pola yang demikian adalah konsumsi lezat bagi mesin pencari. Jika anda menerapkan SEO dan jika mesin pencari suka, posisi di halaman pertama SERP tersedia.

Pada titik ini dituntut kreatifitas anda sebagai empunya website. Pengunjung website anda menunggu di ujung sana. Ada banyak pintu menuju ke sana. Anggap saja mesin pencari hanyalah salah satu pintu. Bahkan pintu itu bisa jadi ada di dunia nyata. Bukan di dunia maya. Pemasaran dengan kabar dari mulut ke mulut masih relevan di era modern. Sambil menunggu sempurna algoritma mesin pencari, nikmati perjalanan bersama website anda di world wide web!

Selamat berkarya!

Menikmati kopi pagi sambil membayangkan suatu hari SEO punah. ☕

 

Peminat dan penikmat WordPress, blogging, desain, dan marketing.

Berikan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *